Kunjungannya di basecamp tari Kawasaran didesa Sarosong 2 kecamatan Airmandidi Minahasa Utara
www.globalinformasi.co.id, MINAHASA UTARA, SULUT,-
Acara pementasan Walanda Maramis sudah mendekat, panitia mempersiapkan diri mengunjungi lokasi sanggar tari yang akan dipentaskan dalam rangka Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.
Dalam kunjungannya di basecamp tari Kawasaran didesa Sarosong 2 kecamatan Airmandidi Minahasa Utara yang mana tarian ini akan ditampilan acara pementasan kolosal teater Maria Walanda Maramis pada Senin, tanggal 06/10/2025.
“Tari Kawasaran adalah tarian tradisional khas Minahasa, Sulawesi Utara, yang melambangkan semangat perjuangan dan keberanian masyarakat setempat. Tarian ini biasanya dibawakan oleh para penari pria yang mengenakan pakaian perang dan senjata seperti pedang, tombak, dan perisai,” tutur femmy Mokosolang.
Dalam pertemuan di lokasi basecamp Tari Kawasaran dihadiri oleh Widya Mailangkay, femmy Mokosolang, Nurhayati Sarjoko, Widiyanti Lawarakan, Ronald Lempoy, Nia Gosal sebagai kameramen.
“Dalam kunjungan ke basecamp Tari Kawasaran di desa Sarongsong 2, Kecamatan Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara dengan pakaian yang sangat estetik,” ungkap Widya Mailangkay.
Tari Kawasaran memiliki tiga babak, yaitu :
– Cakalele : babak pertama yang menunjukkan keganasan dalam berperang dan memberikan rasa aman pada tamu yang hadir.
– Kumoyak : babak kedua yang menggambarkan kesedihan dan penghormatan terhadap para musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam perang.
– Lalaya’an : menunjukkan kebebasan dari rasa sakit hati dan kesedihan yang mungkin dirasakan pada babak sebelumnya.
Para anggota Tari Kawasaran yang akan pentas dalam rangka Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.
1. Ketua Wilayah Tonsea (Minut-Bitung) : Rival Manuwu.
2. Ketua Sanggar Esa Keted Ne Tonsea: Steven Ringkuangan.
3. Sarian (Pemimpin Tarian) : Melky Undap.
4. Sarian muda : Joy Manuwu
Anggota :
1. Salsa Moha
2. Valen Koloay
“Tari Kawasaran akan ditampilkan di acara pementasan kolosal Teater Maria Walanda Maramis, yang merupakan salah satu acara penting di Sulawesi Utara. Menyaksikan keindahan dan keunikan tarian ini secara langsung dan merasakan semangat perjuangan dan keberanian masyarakat Minahasa,” jelas Ronald Lempoy.
Helmi, S.Kom












