TARIAN KAWASARAN ADA MAKNA DAN TUJUAN YANG TERDAPAT DALAM 4 BABAK

GLOBAL_INFORMASI

Foto2 Kawasaran Desa Sawangan-Airmadidi dari zaman Kemerdekaan Indonesia sampe di zaman skarang

www globalinformasi.co.id, SULUT,-

Nama Tarian Perang Minahasa yang sebenarnya bukanlah “KAWASARAN/KABASARAN/”. Nama yang sebenarnya adalah “MAHSASAU” yang tidak memiliki babak-babak seperti diatas, dan Tarian MAHSASAU ini hanya muncul ketika ada situasi perang yang sesungguhnya.

Pakaiannya juga tidak sama seperti yang ada pada saat ini, karena pakaian KAWASARAN saat ini hanya digunakan untuk pertunjukan saja.

Awalnya tidak ada penggunaan Tengkorak dalam baju para Waraney, tapi oleh karena perubahan fungsi dari Tari Perang ke dalam bentuk Tarian.

Pertunjukan, maka di tahun 1900-an ditambahkan lah yang serupa dengan kepala manusia agar generasi muda dapat mengingat dan menceritakan kalau dahulu perna ada tradisi MAMU’IS (Berburu kepala manusia) di Minahasa ; yaitu kepala musuh yang telah dipenggal dan disimpan dirumah para Waraney sebagai pajangan dan kebanggaan seorang Waraney/prajurit.

Sompoi: kain yang di ikat di tangan, perut dan lain sebagainya itu berisi obat-obatan tradisional (Makatana) yg isinya ada kayu lawang merah serta putih, Karimenga merah, Putih dan hitam, dan lain sebagainya yg tujuannya itu utk menangkal racun atau mengobati luka potong dan lain sebagainya utk keperluan medis dalam peperangan.

“Jadi semua ornamen-ornamen tersebut bukanlah jimat utk kesakitan tapi keterampilan pengobatan”.

Lalu untuk penggunaan tumbuhan jenis Tawa’ang juga bukan untuk menangkal hal-hal Goib atau berisi jimat kebal seperti pemahaman pada saat ini, tapi penggunaannya itu adalah Simbol dari orang Minahasa yang melambangkan janji, sumpah dan Setia.

Di bawakan dengan Doa agar Tuhan Pencipta Langit dan Bumi menjadi saksinya. Tawa’ang di Tanam di Sipat tanah agar kedua belah pihak tidak melanggar perjanjian.

Di pukulkan ke tubuh Waraney itu sebagai Simbol Janji, Sumpah & Setia untuk menjaga Tanah Air Pusaka Minahasa.

Begitu juga dengan Tarian Maengket yg di bentuk dan di ambil dari beberapa tari/prosesi Adat.

Rumambak (Nae rumah baru) dan lain-lain yang kemudian di satukan dalam Tari. Secara keseluruhan Tarian Kawasaran dan Maengket ini hanya di ciptakan khusus untuk keperluan Pentas seni Budaya yg mirip dengan seni Teater.

Cuma baju polos pake Kaeng hasil barter atau hadiah dari pemerintah kong kase Ba silang di dada yg tua-tua Sawangan ja bilang “Kapas Deme”.

Sampe so mulai ba pake Tengkorak Yaki dan lain-lain. Jadi jangan salah mangarti, tu tengkorak di baju Kawasaran itu cuma da ta tambah seiring berjalannya waktu dan perubahan dari Tujuan pelestarian Tarian Kawasaran ini.

Babak 1: MENGALEY/MANGINDAYO (Berdoa)

Menceritakan tentang bagaimana bangsa Minahasa pada zaman dahulu, ketika hendak berperang, akan berdoa terlebih dahulu kepada “Opo Empung Mena Kasendukan” ( _Bapa_ /Tuhan yang ada di _atas_ /surga), dengan isi doa sebagai berikut :

“Sigi wangko – Sigi Wangko wia si Opo Mana Natas (Hormat sebesar-besarnya kepada Tuhan yang ada di Atas)”.

Opo Empung Mena Kasendukan (Tuhan yang ada di Surga), Teding-tedingan nyaku Manginday (Dengarkanlah Doa hambamu), Yo Ampung-ampungen ne kami (Ampunilah kami), Sa kami Ya’ai, na’an ne kesala’ timarnem (Jika kami ini mempunyai Kesalahan), Wo’ Pahkedung-kedungen ne kami (Dan Lindungilah kami), Se Waraney (Para Prajurit/Penari Kawasaran), Wo’ se Tou wia tampa Ya’ai (Dan semua orang di tempat ini), Pakatuan Wo Pakalawiden (Umur Panjang dan Sejahterah), Ya’ai mo Pangindayo’an nami (Inilah Doa Kami), Matarima kase daked mo wia si Opo mana Natas (Terimakasih banyak kepada Tuhan yg di Atas(surga), Wia Ngaran ni Yesus, Udit (dalam nama Yesus, Amin).

Doa ini diucapkan oleh Sarian/pemimpin tarian sebelum memulai tarian. Doa ini secara khusus disusun berdasarkan iman Kristen dalam bahasa Tonsea, oleh Rival Manuwu, khusus untuk penampilan/pertunjukan Tou Minahasa Unklab.

Tarian Maengket adalah bagian dari babak 1 ini tapi tapi Tari Maengket dibuat dalam bentuk yang berbeda lewat nyanyian yang berisi doa syukur.

Babak 2: SUMIGI (Penghormatan)

Babak ini dibuat guna melengkapi seni pertunjukan untuk memberikan penghormatan kepada para penonton yang ada disegala arah mata angin.

Babak ini juga dibuat untuk menyambut tamu-tamu kehormatan yang datang ke tanah Minahasa. Dalam peperangan yang sesungguhnya, pada zaman dahulu, tidak ada babak SUMIGI (Penghormatan) ini.

Babak 3: SUMAKALELE (Bertarung)

Menampilkan suasana/situasi ketika sedang berperang. Dalam formasi Tarian Kawasaran terdapat dua barisan yang saling berhadapan yang menggambarkan dua kelompok/kubu/suku yang berbeda yang sedang berperang.

Di babak inilah para WARANEY (Prajurit Minahasa) dari masing-masing kelompok menampilkan keahlian dan keterampilan mereka dalam berperang. (Menunjukkan eskpresi marah, tegas dan berwibawa).

Pada babak ini, biasanya SARIAN (Pemimpin Tarian) Kawasaran akan memilih 1 orang dari masing-masing kelompok untuk sparring (Tidak untuk mencari pemenang tapi hanya untuk pertunjukan) dan akan dihentikan oleh TARIAN itu sendiri.

Babak 4: LALAYAAN (Tarian Kemenangan)

Ketika para WARANEY pulang dengan kemenangan dari medan perang, mereka akan menari Tarian Kemenangan.

Pada dasarnya, ini adalah Tarian Katrili (Tarian ini merupakan hasil akulturasi antara budaya Minahasa dengan budaya Eropa, khususnya Portugis dan Spanyol).

Babak 4 ini juga terdapat dalam tarian Maengket.

Secara keseluruhan, Tarian Kawasaran ini dibuat hanya untuk pentas kesenian/pertunjukan seperti halnya Tarian Maengket.

Hanya saja ada beberapa perbedaan yang ada antara Tari Kawasaran dan Tari Maengket :

Tarian Kawasaran menceritakan tentang situasi perang di masa lampau. Sedangkan Tarian Maengket menceritakan tentang Kehidupan orang Minahasa di masa lampau dari pekerjaannya dan lain sebagainya yg masih juga di lestarikan hingga saat ini.

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *